Tidakheran, 10 nama logam yang tidak dapat berkarat ini menjadi salah satu cara untuk meminimalkan terjadinya korosi pada suatu bangunan, yaitu sebagai berikut: Alumunium menjadi logam yang biasa digunakan untuk pelapis kabel, body kapal, pesawat terbang, kaleng minuman, serta infrastruktur mobil. Logam ini sangat ringan sehingga sering
PELAPISANLOGAM OCP GALVANIS. (+2) Hoiri Efendi, S.Pd. October 11, 2013. Sambungan Pipa jenis ulir segiempat 1,25″ dan 1,5″. Proses pemesinan menghasilkan benda kerja tertentu, apabila yang dikerjakan itu berbahan ferro (logam yang berasal dari besi, contoh besi, besi karbon, besi tuang dan baja) biasanya akan mengalami karat. sehingga
2 Mencegah logam bersinggungan dengan oksigen di udara dan juga air. Pencegahan ini dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Mengecatnya. Lapisan cat mencegah kontak langsung besi dengan oksigen dan air. Hanya jika cat tergores atau terkelupas, maka korosi mulai terjadi dan dapat menyebar di bawah cat yang masih utuh.
Reaksikorosi tersebut sebagai berikut : 2 Fe + O2 Fe2O3 ( 2.7 ) Gambar 2.2 Korosi baja pada larutan NaCL (Hartono dan Kaneko, 1992) Korosi merata (Uniform Corrosion) adalah bentuk umum dari korosi. Pada korosi ini, logam mengalami kerusakan dengan laju yang sama (hampir sama) di seluruh permukaan. Salah satu penyebab dari korosi merata
Jenislogam ini juga dapat mengalami korosi. komponen utama dari baja adalah besi (Fe) dengan karbon (C) sebagai apakah suatu logam cukup responsif untuk tersebut terhadap laju korosi.Baja AISI 420 ini masuk dalam golongan martensitic stainless steel atau baja tahan karat martensitik, dengan kandungan kromium
Korosi adalah perubahan suatu logam menjadi senyawanya. - Dari teori elektrokimia, suatu logam mengalami korosi jika pada permukaan logam terdapat lapisan-lapisan yang bertindak sebagai anode dan lapisan lain bertindak sebagai katode. Fe → Fe2+ + 2e - Reaksi reduksi dalam suasana asam: 2H+ + 2e → H 2 - Reaksi reduksi dalam suasana basa: H
Padapercobaan ini, larutan CuSO 4 mengeluarkan ciri-ciri reaksi spontan seperti yang dijelaskan pada landasan teori diatas. Setelah diamati, ternyata larutan CuSO 4 yang dalamnya dimasukkan lempeng logam seng, mengeluarkan gelembung-gelembung kecil di sekitar lempengan seng tersebut. Lempengan seng juga perlahan-lahan mengalami korosi.
1Sifat Mekanis. Sifat mekanis suatu logam adalah bahan kemampuan atau kelakuan logam itu untuk menahan beban yang dikenakan kepadanya, baik beban statis, dinamis, atau berubah-ubah pada berbagai keadaan, dengan suhu tinggi maupun dibawah nol derajat. Sifat mekanis dari logam tersebut berupa kekenyalan, kekuatan, keuletan, kekerasan, liat
009j. Jakarta Apakah kamu sering melihat besi atau logam lainnya berkarat? Itu adalah peristiwa korosi. Penyebab korosi sendiri adalah reaksi elektrokimia, antara logam dan lingkungan sekitar yang bisa merusak logam. 12 Cara Menghilangkan Karat pada Besi, Ampuh dan Mudah Dipraktikkan 8 Cara Mencegah Korosi, Ketahui Penyebabnya HCl adalah Larutan Akuatik dari Hidrogen Klorida, Kenali Kegunaannya Logam pada umumnya memiliki kondisi energi yang tinggi. Energi tinggi tersebut adalah hasil dari proses produksi logam tersebut. Hal ini membuat logam menjadi rentan terkena korosi. Logam memiliki kecenderungan untuk kembali ke bentuk awalnya. Lingkungan korosif yang sesuai bisa mendorong logam untuk kembali kebentuk awalnya. Mengutip dari situs Rumah Belajar milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud, pada umumnya peristiwa korosi merupakan proses elektrokimia yang berlangsung dalam lingkungan yang mengandung air. Suatu logam akan mengalami korosi jika pada permukaan logam terdapat lapisan yang bertindak sebagai anoda dan lapisan lain yang bertindak sebagai katoda. Ada berbagai penyebab korosi yang bisa merusak logam. Pada umumnya korosi terjadi karena terjadinya kontak antara logam dan air yang menyebabkan logam menjadi berkarat. Lalu faktor apa saja yang menjadi penyebab korosi? Berkut ini adalah faktor-faktor penyebab korosi yang dirangkum oleh dari situs Rumah Belajar milik Kemendikbud, Rabu 27/7/2022Seorang desainer asal Rusia, Andrey Kazantsev, berhasil membuat patung hewan dari Poligon Logam dengan bentuk geometris. Ia mengaku mendapatkan inspirasi untuk membuat patung-patung tersebut dari kesehariannya sebagai mekanik di toko sepeda Korosi Pada LogamCara Mencegah Korosi, Ketahui Penyebabnya. Sumber sumber, ada setidaknya 7 faktor penyebab korosi yang bisa merusak logam atau besi. Berikut ini adalah beberapa faktor tersebut A. Kontak langsung logam dengan H2O dan O2 Faktor penyebab korosi yang pertama adalah adanya kontak langsung antara logam dengan H2O dan O2. Hal ni disebabkan karena logam besi kandungannya tidaklah murni. Logam tersebut memiliki kandungan karbon yang tercampur di dalamnya yang masuk ketika proses pengolahan. Kandungan atau campuran karbon dalam besi tidak menyebar dengan rata yang menimbulkan perbedaan potensial listrik antara atom logan dan atom karbon. Saat logam kontak langsung dengan air, maka oksigen dari udaya yang larut dalam air akan tereduksi. Selain itu, air sendiri berfungsi sebagai media tempat berlangsungnya reaksi redoks pada peristiwa korosi. Semakin tingginya jumlah H2O dan O2 yang mengalamikontak langsung dengan permukaan logam, semakin cepat pula proses korosi pada permukaan logam tersebut berlangsung. B. Keberadaan zat pengotor debu, cairan, dan lumpur Penyebab korosi yang berikutnya ialah adanya zat pengotor seperti debu, cairan, dan lumpur pada permukaan logam. Zat-zat pengotor tersebut bisa menyebabkan reaksi reduksi tambahan yang membuat lebih banyak atom logam pada logam tersebut yang teroksidasi. Contohnya, tumpukan debu karbon hasil pembakaran BBM yang ada pada permukaan logam dapat mempercepat reaksi reduksi oksigen pada logam tersebut dan mempercepat proses korosi. C. Kontak dengan elektrolit Faktor penyebab korosi yang berikutnya ialah keberadaan zat elektrolit. Zat-zat elektrolit yang ada seperti kandungan garam pada air laut dapat menyebabkan reaksi reduksi tambahan yang mempercepat proses korosi. Selain itu, kandungan elektrolit yang terkonsentrasi dalam jumlah besar dapat menaikkan laju aliran elektron yang juga bisa mempercepat proses korosi logam tersebut. D. Temperatur Temperatur udara juga bisa menjadi penyebab korosi pada logam. Semakin tingginya temperatur, maka korosi akan semakin cepat terjadi. Semakin tingginya temperatur maka energi kinetik partikel pada besi semakin meningkat yang menimbulkan tumbukan yang efektif pada reaksi redoks dan memperbesar reaksi tersebut. Semakin besarnya reaksi redoks maka proses korosi pada logam tersebut akan semakin cepat. Kamu bisa mengamati korosi yang terjadi karena suhu atau temperatur dengan melihat perkakas atau mesin yang menimbulkan panas akibat gesekan selama pemakaiannya seperti cutting tools, ataupun mesin yang terkena panas secara langsung seperti mesin kendaraan bermotor. E. Kadar pH Selain kandungan elektrolit, kadar pH dapat mempercepat korosi pada logam. Kondisi asam yakni ketika kandungan pH < 7 akan mempercepat korosi karena dapat menimbulkan reaksi reduksi tambahan yang berlangsung pada katode. Hal ini menyebabkan lebih banyak atom yang teroksidasi dan dapat menjadi penyebab korosi pada logam. F. Metalurgi Faktor metalurgi juga bisa menjadi salah satu penyebab korosi pada logam. Tingkat kemurnian logam yang rendah mengindikasikan adanya banya atom unsur lain yang terkandung di dalam logam tersebut. Hal ini memicu terjadinya efek Galvanic Coupling, yaitu timbulnya perbedaan potensial pada permukaan logam tersebut karena adanya perbedaan atom-atom dari unsur yang berbeda. Efek ini bisa memicu terjadinya korosi karena dapat meningkatkan reaksi iksidasi pada daerah anode pada logam tersebut. Permukaan logam juga bisa mempengaruhi proses korosi. Logam yang memiliki permukaan yang lebih kasar dapat lebih mudah terkena korosi. Permukaan yang kasar tersebut dapat menimbulkan beda potensial dan cenderung menjadi anode yang terkorosi. G. Mikroba Faktor penyebab korosi yang berikutnya adalah adanya mikroba pada permukaan logam. Terdapatnya koloni mikroba pada permukaan suatu logam bisa menybabkan kondisi material logam menjadi menurun karena adanya reaksi redoks. Reaksi redoks ini terjadi karena mikroba mengambil energi yang penting bagi keberlangsungan hidupnya. Ada berbagai macam mikroba yang bisa menyebabkan korosi pada logam, diantaranya adalah protozoa, besi mangan oksida, bakteri reduksi sulfat, dan bakteri oksidasi sulfur-sulfida seperti Thiobacillus thiooxidans, dan Thiobacillus Mencegah KorosiCara Mencegah Korosi, Ketahui Penyebabnya. Sumber yang terjadi pada logam bisa menyebabkan berbagai masalah. Logam adalah salah satu unsur yang penting dalam kehidupan manusia. Berbagai peralatan atau perlengkapan yang sering digunakan manusia pada kehidupan sehari-hari. Korosi dapat merusak peralatan-peralatan tersebut. Contohnya, apa bila besi pada jembatan berkarat, maka bisa menurunkan kondisi jembatan tersebut dan kalau sampai kondisinya menjadi lebih parah, maka jembatan tersebut bisa menjadi tidak layak digunakan atau bahkan rusak sepenuhnya. Masalahnya, korosi terjadi akibat faktor lingkungan yang terkadang sulit untuk dihindari. Apabila anda menggunakan motor, anda terkadang juga sulit untuk menghindari supaya motor tersebut tidak terkena air, apalagi kalau musim hujan. Begitu juga dengan jembatan. Jembatan yang dibangun di atas sungai atau laut membuat sebagian dari jembatan harus berkontak langsung dengan air yang bisa menyebabkan korosi atau berkarat. Oleh sebab itu, dibutuhkan beberapa cara untuk mencegah terjadinya proses korosi pada logam tersebut. Pada umumnya korosi terjadi karena adanya kontak langsung antara logam dengan zat-zat yang bisa menyebabkan proses korosi seperti air. Dengan demikian, maka cara terefektif untuk mencegah proses ini terjadi ialah dengan mencegah adanya kontak langsung antara logam dan zat tersebut, yaitu dengan memberikan lapisan pelapis. Melapisi logam dengan lapisan pela[is adalah cara yang efektif dan banyak digunakan untuk mencegah terjadinya proses korosi pada logam. Pada kendaraan bermotor, lapisan cat tidak hanya berguna untuk mempercantik kendaraan tersebut saja, tetapi juga membantu mencegah kontak langsung antara logam pada kendaraan bermotor tersebut dengan zat-zat yang bisa menyebabkan korosi seperti air hujan. Lapisan cat juga digunakan untuk mencegah korosi di jembatan dan kapal. Sementara itu, lapisan oli pada mesin kendaraan bermotor ataupun mesin lainnya juga bisa membantu melindungi logam dari proses korosi. Selain itu, melapisi logam dengan menggunakan lapisan plastik juga biasa digunakan untuk mencegah korosi pada peralatan dapur seperti rak pengering.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Apabila kita kembali pada pengertian dasar dari korosi maka korosi adalah sebuah efek yang merusak yang terjadi pada sebuah material dikarenakan material tersebut bereaksi dengan lingkungannya, sehingga sifat dasar material dan kondisi lingkungan dimana material tersebut berada menjadi sebuah parameter utama sejauh mana proses korosi dapat merusak material tersebut. Lebih spesifik mari kita berbicara mengenai material logam. saat sebuah logam dihadapkan pada sebuah kondisi lingkungan tertentu maka logam tersebut akan berperilaku seperti salah satu sifat pada tiga sifat logam berikut ini. Taken from Corrosion Understanding the basic I. Sifat Logam Yang Kebal Immune Pada sifat pertama ini logam akan kebal atau sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan lingkungannya, logam yang dapat menggambarkan sifat ini biasa disebut sebagai logam mulia, seperti emas,perak dan platina. Kombinasi antara lingkungan dan logam yang disebut di atas akan menghasilkan sebuah sifat yang kebal bagi logam tersebut. Tidak akan terjadi sebuah proses reaksi kimia pada logam tersebut atau tidak akan terjadi proses korosi pada logam tersebut, apabila logam tersebut ditimbang sebelum dimasukkan dalam sebuah kondisi lingkungan tertentu kemudian ditimbang lagi setelah beberapa waktu maka berat dari logam tersebut tidak berkurang sama sekali. Sifat kebal ini terjadi karena jenis logam sudah sangat stabil secara termodinamika pada sebuah kondisi lingkungan tertentu sehingga proses korosi tidak bisa terjadi secara spontan. II. Sifat Aktif atau Reaktif Pada sifat kedua ini logam akan sangat mudah bereaksi dengan lingkungannya atau dengan kata lain logam dengan sangat mudah terkorosi saat logam tersebut ditenggelamkan pada sebuah lingkungan cair tertentu misalnya, dan apabila diteliti lebih jauh maka dapat diketahui bahwa logam tersebut terlarut dalam air dan berubah bentuk menjadi ion terlarut dan lebih jauh lagi ion terlarut tersebut akan bertransformasi menjadi produk korosi yang tidak protektif terhadap logam. Proses korosi pada logam ini akan terus berlanjut dikarenakan produk korosi yang terbentuk tidak mampu mencegah proses korosi berlangsung lebih jauh. Karakter reaktif logam ini dapat digambarkan dengan hilangnya sebagian besar berat logam setelah dihadapkan pada sebuah kondisi lingkungan tertentu, jika kita menimbang berat logam sebelum dan sesudah logam tersebut bereaksi dengan lingkungannya. III. Sifat Pasif Passive Pada sifat ketiga ini maka kita akan menemukan bahwa sebenarnya proses korosi terjadi sama seperti pada sifat reaktif akan tetapi pada sebuah fase tertentu kita akan menemukan bahwa logam tersebut akan bersifat pasif terhadap lingkungannya. Dengan kata lain memang logam tersebut terkorosi sehingga logam tersebut terlarut dalam air dan berubah menjadi ion terlarut akan tetapi lebih jauh ion terlarut tersebut akan berubah menjadi sebuah lapisan film produk korosi yang sangat tipis ,Yang justru akan melindungi logam dari proses korosi lebih jauh. Lapisan film produk korosi ini juga disebut lapisan pasif film protective passive layer, dimana lapisan ini akan mengurangi laju korosi logam pada level yang rendah bahkan pada level yang sangat rendah jika lapisan film dapat terbentuk dengan baik. Bagus tidaknya sebuah pasif film ini bertahan terhadap proses korosi sangat bergantung pada integritas lapisan pasif film tersebut. Dan sebaliknya apabila lapisan film tersebut rusak maka logam dapat kembali mengalami proses korosi atau kembali pada fase reaktif. Beberapa contoh logam yang memiliki sifat pasif adalah besi, krom, titanium, nikel dan beberapa logam campuran yang terdiri dari logam dasar yang disebutkan diatas seperti stainless steel atau carbon steel. Sifat manakah yang diharapkan akan terjadi pada logam, pada sudut pandang pencegahan laju korosi tentu yang diharapkan adalah sifat kebal immune dan sifat passive. Akan tetapi sifat kebal pada logam sangat membutuhkan biaya yang sangat besar dikarenakan material yang ada didalamnya merupakan material yang mahal dan terbatas. Sifat passive menjadi pilihan yang masuk akal dalam teknik pencegahan korosi sehingga ada beberapa teknik "passive treatment" yang rumuskan dalam dunia pencegahan korosi pada logam.
Korosi atau pengkaratan adalah suatu proses reaksi terjadinya perusakan atau degradasi penurunan kualitas material logam dan non logam karena pengaruh kimia dan elektrokimia karena kontak langsung dengan lingkungan berupa air, udara, gas, asam dan lain-lain. Istilah korosi berasal dari bahasa latin, yaitu corrodere yang artinya perusakan logam atau berkarat. Korosi merupakan penurunan kualitas suatu material biasanya logam karena reaksi elektrokimia antara logam dengan lingkungannya yang mengakibatkan terjadinya penurunan mutu logam menjadi rapuh, kasar, dan mudah hancur. Korosi merupakan sesuatu yang sangat berbahaya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Proses terjadinya korosi pada logam tidak dapat dihentikan, namun bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga memperlambat proses perusakannya, salah satu diantaranya adalah dengan pelapisan pada permukaan logam, perlindungan katodik, penambahan inhibitor korosi dan lain-lain. Berikut definisi dan pengertian korosi dari beberapa sumber buku Menurut Jones 1992, korosi adalah suatu proses degradasi material dan penurunan kualitas suatu material akibat pengaruh reaksi kimia dan elektrokimia dengan keadaan lingkungannya. Menurut Kurniawan dan Saifullah 2012, korosi adalah fenomena kimia bahan-bahan logam di berbagai macam kondisi lingkungan, yaitu reaksi kimia antara logam dengan zat-zat yang ada di sekitarnya atau dengan partikel-partikel lain yang ada di dalam matriks logam itu sendiri. Menurut Supardi 1997, korosi adalah terjadinya perusakan material khususnya logam akibat lingkungannya akibat reaksi kimia yaitu pada temperatur yang tinggi antara logam dan gas atau terjadi korosi elektrokimia dalam lingkungan air atau udara basah. Menurut Bardal 2003, korosi merupakan degradasi material biasanya logam akibat reaksi elektrokimia material tersebut dengan lingkungannya berupa air, udara, gas, larutan asam, dan lain-lain. Menurut Chodijah 2008, korosi merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan yang berair dan beroksigen. Reaksi Terjadinya Korosi Proses terjadinya korosi dalam suatu larutan berawal dari logam yang teroksidasi yang kemudian melepaskan elektron untuk membentuk ion logam yang bermuatan positif. Larutan akan bertindak sebagai katoda dengan reaksi yang umum terjadi adalah pelepasan H2 dan reduksi O2, akibat ion H+ dan H2O yang tereduksi. Reaksi ini terjadi di permukaan logam yang akan menyebabkan pengelupasan akibat pelarutan logam ke dalam larutan secara berulang-ulang. Mekanisme korosi yang terjadi pada logam besi Fe adalah sebagai berikut Fero hidroksida [FeOH2] yang terjadi merupakan hasil sementara yang dapat teroksidasi secara alami oleh air dan udara menjadi ferri hidroksida [FeOH3]. Ferri hidroksida yang terbentuk akan berubah menjadi [Fe2O3] yang berwarna merah kecoklatan yang biasa kita sebut karat. Jenis-jenis Korosi Menurut Jaya dkk 2010, korosi dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu a. Korosi Merata Uniform Corrosion Merupakan korosi yang disebabkan oleh reaksi kimia atau elektrokimia yang terjadi secara seragam pada permukaan logam. Efeknya adalah terjadi penipisan pada permukaan dan akhirnya menyebabkan kegagalan karena ketidakmampuan untuk menahan beban. Korosi ini dapat dicegah atau dikendalikan dengan pemilihan material termasuk coating, penambahan corrosion inhibitor pada fluida atau menggunakan cathodic protection. b. Korosi Galvanik Galvanic Corrosion Merupakan korosi yang disebabkan adanya beda potensial antara dua logam yang berada pada fluida atau media konduktif dan korosif. Akibatnya, logam dengan ketahanan terhadap korosi yang rendah akan mengalami laju korosi lebih tinggi dibandingkan dengan logam yang memiliki ketahanan terhadap korosi tinggi. Pencegahan korosi ini menggunakan satu jenis material yang sama atau menggunakan kombinasi beberapa material yang memiliki sifat galvanis yang mirip, menggunakan insulasi pada sambungan antara logam, serta mengurangi karakteristik korosi dari fluida dengan menggunakan corrosion inhibitor. c. Korosi Celah Crevice Corrosion Korosi celah merupakan bentuk korosi dimana korosi terjadi ketika terdapat celah akibat penggabungan atau penyatuan dua logam yang sama memiliki kadar oksigen berbeda dengan area luarnya. Karat yang terjadi karena celah sempit terisi dengan elektrolit air yang pHnya rendah maka terjadilah suatu sel korosi dengan katodanya permukaan sebelah luar celah yang basa dengan air yang lebih banyak mengandung zat asam dari pada bagian sebelah dalam celah yang sedikit mengandung zat asam sehingga bersifat anodic. Korosi celah merupakan korosi yang terjadi di sela-sela gasket, sambungan bertindih, sekrup-sekrup atau kelingan yang terbentuk oleh kotoran-kotoran endapan atau timbul dari produk-produk karat. d. Korosi Sumuran Pitting Corrosion Korosi sumuran adalah bentuk serangan korosi yang sangat lokal menyerang pada daerah tertentu saja yang mengakibatkan lubang dalam logam. Lubang ini mungkin memiliki diameter yang kecil atau besar, namun dalam banyak kasus lubang tersebut relatif kecil. Lubang terisolasi atau kadang-kadang terlihat seperti permukaan yang kasar. Pits umumnya dapat digambarkan sebagai rongga atau lubang dengan diameter permukaan kurang-lebih sama atau kurang dari kedalaman. Korosi sumuran adalah salah satu bentuk korosi yang paling merusak dan berbahaya. Hal itu menyebabkan peralatan menjadi gagal karena dengan penurunan massa yang sedikit saja akibat adanya lubang, maka kegagalan dapat terjadi dengan mudah. Sering kali sulit untuk mendeteksi pit karena ukurannya yang kecil dan arena lubang-lubang tersebut tertutup oleh produk korosi. e. Korosi Erosi Erosion Corrosion Korosi erosi adalah percepatan tingkat kerusakan atau serangan pada logam karena gerakan relatif antara cairan korosif dan permukaan logam. Umumnya gerakan ini cukup cepat, dan berkaitan dengan abrasi. Logam yang berada di permukaan akan berubah menjadi ion terlarut atau menjadi bentuk produk korosi yang padat. Kadang-kadang pengaruh dari lingkungan dapat mengurangi laju korosi, khususnya ketika serangan lokal terjadi dalam kondisi tergenang, tapi ini tidak bisa disebut erosion corrosion karena kerusakan tidak bertambah. f. Korosi Tegangan Stress Corrosion Merupakan korosi yang terjadi akibat kombinasi antara beban/stress pada logam dan media yang korosif. Korosi ini dapat terjadi apabila beban yang diterima oleh logam melebihi suatu minimum stress level. Jenis serangan karat ini terjadi sangat cepat, dalam ukuran menit, yakni jika semua persyaratan untuk terjadi nya karat regangan tegangan ini telah terpenuhi pada saat tertentu yaitu adanya regangan internal dan terciptanya kondisi korosif yang berhubungan dengan konsentrasi zat karat corrodent dan suhu lingkungan. Contoh korosi tegangan pada pipa. Faktor yang Mempengaruhi Korosi Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi laju terjadinya korosi, yaitu sebagai berikut a. Suhu Suhu merupakan faktor penting dalam proses terjadinya korosi, di mana Kenaikan suhu akan menyebabkan bertambahnya kecepatan reaksi korosi. Hal ini terjadi karena makin tinggi suhu maka energi kinetik dari partikel-partikel yang bereaksi akan meningkat sehingga melampaui besarnya harga energi aktivasi dan akibatnya laju kecepatan reaksi korosi juga akan makin cepat, begitu juga sebaliknya. b. Kecepatan Alir Fluida atau Kecepatan Pengadukan Laju korosi cenderung bertambah jika laju atau kecepatan aliran fluida bertambah besar. Hal ini karena kontak antara zat pereaksi dan logam akan semakin besar sehingga ion-ion logam akan makin banyak yang lepas sehingga logam akan mengalami kerapuhan korosi. c. Konsentrasi Bahan Korosif Hal ini berhubungan dengan pH atau keasaman dan kebasaan suatu larutan. Larutan yang bersifat asam sangat korosif terhadap logam dimana logam yang berada didalam media larutan asam akan lebih cepat terkorosi karena karena merupakan reaksi anoda. Sedangkan larutan yang bersifat basa dapat menyebabkan korosi pada reaksi katodanya karena reaksi katoda selalu serentak dengan reaksi anoda. Di dalam medium basah, korosi dapat terjadi secara seragam maupun secara terlokalisasi. Contoh korosi seragam di dalam medium basah adalah apabila besi terendam di dalam larutan asam klorida HCl. d. Oksigen Adanya oksigen yang terlarut akan menyebabkan korosi pada metal seperti laju korosi pada mild stell alloys akan bertambah dengan meningkatnya kandungan oksigen. Kelarutan oksigen dalam air merupakan fungsi dari tekanan, temperatur, dan kandungan klorida. Oksigen yang terdapat di dalam udara dapat bersentuhan dengan permukaan logam yang lembab, sehingga kemungkinan menjadi korosi lebih besar. Di dalam air lingkungan terbuka, adanya oksigen menyebabkan korosi. e. Waktu Kontak Dalam proses terjadinya korosi, laju reaksi sangat berkaitan erat dengan waktu. Pada dasarnya semakin lama waktu logam berinteraksi dengan lingkungan korosif maka semakin tinggi tingkat korosifitasnya. Aksi inhibitor diharapkan dapat membuat ketahanan logam terhadap korosi lebih besar. Dengan adanya penambahan inhibitor kedalam larutan, maka akan menyebabkan laju reaksi menjadi lebih rendah, sehingga waktu kerja inhibitor untuk melindungi logam menjadi lebih lama. Kemampuan inhibitor untuk melindungi logam dari korosi akan hilang atau habis pada waktu tertentu, hal itu dikarenakan semakin lama waktunya maka inhibitor akan semakin habis terserang oleh larutan. Perlindungan dan Pengendalian Korosi Untuk mengurangi bahkan menghindari kerugian yang diakibatkan oleh proses korosi, maka perlu dilakukan perlindungan terhadap korosi. Ada beberapa metode yang dapat dikembangkan untuk memperlambat laju korosi, antara lain adalah sebagai berikut a. Pemilihan Material Material Selection Prinsip dasar dari pemilihan material ini adalah mengenai tepat atau tidaknya pengaplikasian suatu material terhadap suatu lingkungan tertentu. Pemilihan material yang sesuai dengan kondisi lingkungan, dapat meminimalisir terjadinya kerugian akibat proses korosi. Deret galvanik merupakan suatu acuan yang penting dalam melakukan pemilihan material. Di antara bahan-bahan konstruksi yang paling sering digunakan adalah besi, aluminium, timah hitam, tembaga, nikel, timah putih, dan titanium. b. Desain Usaha penanggulangan korosi sebaiknya sudah dilakukan sejak tahapan desain proses. Ahli-ahli korosi sebaiknya ikut dilibatkan dalam desain proses dari sejak pemilihan proses, penentuan kondisi-kondisi prosesnya, penentuan bahan-bahan konstruksi, pemilihan layout, saat konstruksi sampai tahap start-upnya. Diantara cara-cara penanggulangan korosi dari segi desain yang sering digunakan adalah Isolasi alat dari lingkungan korosif. Mencegah hadir/terbentuknya elektrolit. Jaminan lancarnya aliran fluida. Mencegah korosi erosi/abrasi akibat kecepatan aliran. Mencegah terbentuknya sel galvanik. c. Perlakuan Lingkungan Upaya perlakuan lingkungan ini sangat penting dalam penanggulangan korosi di industri. Lingkungan yang korosif diupayakan menjadi tidak atau kurang korosif. Ada dua macam cara perlakuan lingkungan yaitu Pengubahan media/elektrolit. Misalnya penurunan suhu, penurunan kecepatan alir, penghilangan oksigen atau oksidator, pengubahan konsentrasi. Penggunaan inhibitor. Inhibitor adalah suatu bahan kimia yang jika ditambahkan dalam jumlah yang kecil saja kepada lingkungan media yang korosif, akan menurunkan kecepatan korosi. Inhibitor bekerja menghambat laju korosi. Belum banyak diketahui bagaimana cara kerja inhibitor dalam menghambat korosi. d. Pelapisan Metode pelapisan atau coating adalah suatu upaya mengendalikan korosi dengan menerapkan suatu lapisan pada permukaan logam besi. Misalnya,dengan pengecatan atau penyepuhan logam. Penyepuhan besi biasanya menggunakan logam krom atau timah. Kedua logam ini dapat membentuk lapisan oksida yang tahan terhadap lapisan film permukaan dari oksida logam hasil oksidasi yang tahan terhadap korosi lebih lanjut. Logam seng juga digunakan untuk melapisi besi galvanisir,tetapi seng tidak membentuk lapisan oksida seperti pada krom dan timah,melainkan berkarbon demi besi. Ada dua macam cara pelapisan, yaitu Pelapisan dengan bahan logam. Pada pelapisan dengan bahan logam, dapat digunakan bahan-bahan logam yang lebih inert maupun yang kurang inert sebagai bahan pelapis. Pemakaian kedua macam bahan tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pelapisan dengan bahan non logam, yaitu dengan pelapis berbahan dasar organik seperti cat polimer dan pelapis berbahan dasar anorganik. e. Proteksi Katodik dan Anodik Proteksi katodik merupakan metode pencegahan korosi pada logam dengan cara logam yang ingin dilindungi dijadikan lebih bersifat katodik. Apabila dilakukan dengan arus listrik dari power suplai maka disebut arus tanding, dan jika dihubungkan dengan logam lain disebut anoda korban. Proteksi katodik sangat efektif untuk melindungi korosi eksternal pada pipa saluran yang berada di bawah tanah atau dibawah air laut. Namun penggunaan metoda ini dapat menimbulkan masalah baru yang harus dipertimbangkan, seperti arus sesat stray-current yang justru dapat meningkatkan laju korosi pada logam lain di sekitar logam yang dilindungi, melepuhnya permukaan logam blistering, retak pada struktur, rusaknya lapisan cat, dan apabila dilakukan pada alumunium maka dapat merusak lapisan pasif. Proteksi anodik adalah metoda perlindungan logam terhadap korosi dengan cara merubah potensial logam menjadi lebih positif. Metoda ini juga digunakan untuk melindungi korosi internal pada tangki atau vessel, namun hanya efektif jika logam dan lingkungan dapat membentuk lapisan pasif. Biaya instalasi, maintenance, dan power yang cukup besar merupakan parameter yang harus dipertimbangkan ketika memilih metoda ini. Daftar Pustaka Jones, D. A. 1992. Principle and Prevention of Corrosion. New York Maxwell Macmillan Kurniawan dan Saifullah 2012. Teknologi Sediaan Farmasi. Purwokerto Unsoed Press. Supardi, R. 1997. Korosi. Bandung Tarsito. Bardal, Einar. 2003. Corrosion and Protection. Trondheim The Norwegian University of Science and Technology. Chodijah, S. 2008. Efektivitas Penggunaan Pelapis Epoksi Terhadap Ketahanan Korosi Pipa Baja ASTM A53 Dalam Tanah. Jakarta Universitas Indonesia. Jaya, Halwan, dkk. 2010. Laporan Kerja Praktek Katodik Pipa. Jakarta Departemen Metalurgi dan Material FTUI.